Tampilkan postingan dengan label Kisah Santo -Santa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Santo -Santa. Tampilkan semua postingan
08 Januari 2009
St. Fransiskus Asisi : Sang Santo Miskin...
St. Fransiskus adalah seorang santo yang hebat yang cocok untuk kamu jadikan teladan hidupmu. Bahkan hingga kini Ordo Fransiskan (O.F.M. = Ordo Fratrum Minorum = Ordo Friars Minor = Ordo Saudara-saudara Dina) yang didirikannya masih terus tumbuh dan berkembang.
Fransiskus dilahirkan di kota Assisi, Italia pada tahun 1181. Ayahnya bernama Pietro Bernardone, seorang pedagang kain yang kaya raya, dan ibunya bernama Donna Pica. Di masa mudanya, Fransiskus lebih suka bersenang-senang dan menghambur-hamburkan harta ayahnya daripada belajar. Ketika usianya 20 tahun, Fransiskus ikut maju berperang melawan Perugia. Ia tertangkap dan disekap selama satu tahun hingga jatuh sakit. Pada masa itulah ia mendekatkan diri kepada Tuhan. Setelah Fransiskus dibebaskan, ia mendapat suatu mimpi yang aneh. Dalam mimpinya, ia mendengar suara yang berkata, "layanilah majikan dan bukannya pelayan."
Setelah itu Fransiskus memutuskan untuk hidup miskin. Ia pergi ke Roma dan menukarkan bajunya yang mahal dengan seorang pengemis, setelah itu seharian ia mengemis. Semua hasilnya dimasukkan Fransiskus ke dalam kotak persembahan untuk orang-orang miskin di Kubur Para Rasul. Ia pulang tanpa uang sama sekali di sakunya. Suatu hari, ketika sedang berdoa di Gereja St. Damiano, Fransiskus mendengar suara Tuhan, "Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku yang hampir roboh". Jadi, Fransiskus pergi untuk melaksanakan perintah Tuhan. Ia menjual setumpuk kain ayahnya yang mahal untuk membeli bahan-bahan guna membangun gereja yang telah tua itu.
Pak Bernardone marah sekali! Fransiskus dikurungnya di dalam kamar. Fransiskus, dengan bantuan ibunya, berhasil melarikan diri dan pergi kepada Uskup Guido, yaitu Uskup kota Assisi. Pak Bernardone segera menyusulnya. Ia mengancam jika Fransiskus tidak mau pulang bersamanya, ia tidak akan mengakui Fransiskus sebagai anaknya dan dengan demikian tidak akan memberikan warisan barang sepeser pun kepada Fransiskus. Mendengar itu, Fransiskus malahan melepaskan baju yang menempel di tubuhnya dan mengembalikannya kepada ayahnya.
Kelak, setelah menjadi seorang biarawan, Fransiskus baru menyadari bahwa yang dimaksudkan Tuhan dengan membangun Gereja-Nya ialah membangun semangat ke-Kristenan.
Pada tanggal 3 Oktober 1226, dalam usianya yang ke empatpuluh lima tahun Fransiskus meninggal dengan stigmata (Luka-luka Kristus) di tubuhnya.
Tidak ada seorang pun dari pengikutnya yang menyerah dan mengundurkan diri setelah kematian Fransiskus, tetapi mereka semua melanjutkan karya cinta kasihnya dengan semangat kerendahan hati dan meneruskan kerinduannya untuk memanggil semua orang menjadi pengikut Kristus yang sejati.
Santo Fransiskus adalah santo pelindung binatang dan anak-anak. Pestanya dirayakan setiap tanggal 4 Oktober.
DOA ST. FRANSISKUS DARI ASSISI
TUHAN, jadikanlah aku pembawa DAMAI.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.
27 September 2008
The Story of St. Tarcisius

ST. TARCISIUS
Tarcisius was a twelve-year-old acolyte during one of the fierce Roman persecutions of the third century, probably during that of Valerian. Each day, from a secret meeting place in the catacombs where Christians gathered for Mass, a deacon would be sent to the prisons to carry the Eucharist to those Christians condemned dying. At one point, there was no deacon to send and so St. Tarcisius, an acolyte, was sent carrying the "Holy Mysteries" to those in prison.
On the way, he was stopped by boys his own age who were not Christians but knew him as a playmate and lover of games. He was asked to join their games, but this time he refused and the crowd of boys noticed that he was carrying something. Somehow, he was also recognized as a Christian, and the small gang of boys, anxious to view the Christian "Mysteries," became a mob and turned upon Tarcisius with fury. He went down under the blows, and it is believed that a fellow Christian drove off the mob and rescued the young acolyte.
The mangled body of Tarcisius was carried back to the catacombs, but the boy died on the way from his injuries. He was buried in the cemetery of St. Callistus, and his relics are claimed by the church of San Silvestro in Capite.
In the fourth century, Pope St. Damasus wrote a poem about this "boy-martyr of the Eucharist" and says that, like another St. Stephen, he suffered a violent death at the hands of a mob rather than give up the Sacred Body to "raging dogs." His story became well known when Cardinal Wiseman made it a part of his novel Fabiola, in which the story of the young acolyte is dramatized and a very moving account given of his martyrdom and death.
Tarcisius, one of the patron saints of altar boys, has always been an example of youthful courage and devotion, and his story was one that was told again and again to urge others to a like heroism in suffering for their faith. In the Passion of Pope Stephen, written in the sixth century, Tarcisius is said to be an acolyte of the pope himself and, if so, this explains the great veneration in which he was held and the reason why he was chosen for so difficult a mission.
Thought for the Day: Mere boys can become saints, and youth is no barrier to holiness. The call to holiness begins at baptism, and we do not have to wait for old age and gray hair to serve God. Youthful saints tell us something about sanctity, and their example is especially luminous as they dedicate their young lives to God.
St. Tarcisius is one of my favourite person because he can give his spirit for keep his faith.
Finally I will sing a song which can decribe the spirit of St. Tarcisius : (dengan nada Setia Jikustik)
I am, stiil stay here, for keep my faith....
Langganan:
Postingan (Atom)



