
- Pemimpin terkenal suatu gerakan yang membangkang terhadap para imam, tua-tua bangsa serta ahli-ahli Taurat
http://www.indocell.net/yesaya
|
|



Saat semua orang sibuk mencari resolusi baru menyambut tahun baru ini, aku pun tergerak untuk melihat dalam diriku. “Apakah yang ingin saya wujudkan di tahun baru ini? Apakah aku sudah cukup baik bertindak sebagai manusia?”
Bagiku resolusi terkesan sia-sia karena biasanya hanya digaungkan saat-saat menjelang tahun baru. Mereka tak mampu menciptakan hal itu sebagai bagian dalam dirinya. Ya, daripada saya terus membicarakan kekurangan orang lain, saya juga sedang mencoba menjadi manusia yang lebih bertanggungjawab. Aku punya harapan di tahun ini aku mampu untuk semakin melandasi hidupku dengan percaya pada diri sendiri.
Aku mencoba untuk merangkumnya dalam tiga kata kunci, yakni introspeksi, evaluasi, dan refleksi. Tiga hal ini sudah cukup mewakili apa yang sedang ada di dalam benakku. Aku mau jadi diri sendiri yang peka terhadap keadaan sekitarku.
Segala keputusan penting yang telah kuambil di masa-masa ini kuyakini sungguh berasal dari suatu proses pertimbangan yang matang. Aku akan mulai mencoba mempertanggungjawabkan semuannya dengan bantuan rahmat-Nya. Semoga aku bisa mewujudkan Talk Less Do More!
Minggu (17-18 Oktober 2009) menjadi hari yang istimewa bagi umat Paroki St. Fransiskus Xaverius, Tanjung Priok. Perayaan Ekaristi hari itu terasa lebih meriah dengan alunan musik orkestra yang dibawakan oleh para seminaris Wacana Bhakti. Ya, para seminaris sepertinya memberikan suasana baru bagi umat sekalian.
Para calon imam masa depan ini bukan datang tanpa alasan. Mereka sedang mempromosikan cara hidup yang ’berbeda’ dibanding kehidupan remaja seusia mereka. Hal ini bertujuan untuk menyapa secara langsung kaum muda paroki, agar mereka dapat mengenal cara hidup yang unik sebagai calon imam.
Acara ini mendapat respon positif dari berbagai pihak, mulai dari pastor paroki, umat, dan tentunya bagi para seminaris sendiri. Romo Yoyon CM selaku Romo Paroki mengungkapkan perhatiannya kepada para seminaris. ”Seminaris adalah masa depan gereja, jadi umat punya tanggung jawab untuk mendukung dan mendoakan para calon imam ini”, ujarnya sambil tersenyum yang kemudian disambut tawa dari umat sekalian. Kegembiraan juga dirasakan oleh umat, salah satunya Ibu Irene. Ia amat bangga dengan keberanian para seminaris yang punya cita-cita mulia. Kehadiran para seminaris di parokinya juga dirasakannya amat berguna, khususnya untuk menyadarkan para orang tua agar mau merelakan anaknya yang tertarik menjadi biarawan atau biarawati. Tak berbeda dengan Ibu Irene, Albertus Ade Pratama, salah seorang seminaris juga merasakan suasana gembira ini. Seminaris yang berasal dari Paroki Santo Fransiskus Xaverius ini mengungkapkan bahwa motivasinya berkembang dengan kegiatan ini, terlebih karena Ekspo ini dilakukan di parokinya sendiri. ”Dengan hal ini, saya harap bukan saya saja yang terpanggil, tapi juga teman-teman muda di Paroki. Toh, jadi calon imam itu enak kok,” tambahnya.
